Dolar AS Melemah Tiga Pekan Beruntun: Pasar Valas Tunggu Sinyal Baru dari The Fed

Dolar AS memperpanjang pelemahannya selama tiga minggu berturut-turut akibat prospek pemotongan suku bunga The Fed. Pasar menanti pidato pejabat The…
1 Min Read 1 24

Dolar AS memperpanjang pelemahannya selama tiga minggu berturut-turut akibat prospek pemotongan suku bunga The Fed. Pasar menanti pidato pejabat The Fed sambil mencermati data ekonomi AS, pergerakan mata uang mayor, serta sentimen global.

Pidato Pejabat The Fed Jadi Sorotan Utama Pasar

Pasar valuta asing memasuki akhir pekan dengan dinamika yang semakin menarik. Dolar Amerika Serikat (USD) kembali bergerak melemah pada perdagangan Jumat, memperpanjang tren penurunannya hingga tiga minggu berturut-turut. Para pelaku pasar terus menilai ulang arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) menyusul perkembangan terbaru mengenai suku bunga dan data ekonomi AS yang menunjukkan tanda-tanda moderasi.

Pelemahan dolar terjadi ketika investor semakin yakin bahwa bank sentral AS tidak akan mempertahankan suku bunga tinggi terlalu lama pada 2026. Ekspektasi pemotongan suku bunga pada tahun depan, yang terus berkembang seiring sinyal dovish dari internal The Fed, menjadi faktor utama yang menekan Greenback terhadap enam mata uang besar dunia.

Para trader kini menunggu pidato penting dari dua pejabat The Fed: Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack dan Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee. Keduanya dijadwalkan memberikan pandangan tentang prospek ekonomi dan kebijakan moneter AS pada hari Jumat. Pasar berharap mendapatkan petunjuk tambahan mengenai seberapa cepat atau lambat The Fed akan bergerak menurunkan suku bunga di tahun mendatang.

Sentimen pasar terhadap dolar saat ini berada pada posisi defensif. Setiap indikasi bahwa The Fed akan bersikap lebih lunak atau mengakui perlambatan ekonomi dapat semakin menekan USD dan memperkuat mata uang lainnya.

Data Klaim Pengangguran AS Meningkat Signifikan

Salah satu pemicu melemahnya dolar datang dari laporan Departemen Tenaga Kerja AS (DoL). Data terbaru menunjukkan peningkatan jumlah klaim tunjangan pengangguran menjadi 236.000, jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 220.000. Angka tersebut juga melampaui catatan minggu sebelumnya yang direvisi menjadi 192.000.

Kenaikan klaim pengangguran ini adalah yang terbesar sejak Juli 2021, mengindikasikan mulai adanya perlambatan di pasar tenaga kerja AS—komponen penting yang selalu diawasi ketat The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Pelemahan pada pasar kerja dianggap sebagai alasan kuat bagi The Fed untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan lebih cepat.

The Fed Memotong Suku Bunga, tetapi Divisi Internal Terlihat Jelas

Pada pertemuan kebijakan Desember, The Fed secara mengejutkan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bp). Dengan langkah tersebut, kisaran suku bunga federal funds kini berada di rentang 3,50% hingga 3,75%.

Menariknya, keputusan pemotongan itu tidak bulat. Dua pejabat memilih mempertahankan suku bunga, sementara Stephen Miran—yang merupakan kandidat yang diajukan mantan Presiden Donald Trump—bahkan mendorong pemotongan lebih agresif. Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa The Fed menghadapi tantangan dalam membaca arah ekonomi, terutama di tengah ketidakpastian inflasi dan kondisi tenaga kerja.

Sementara itu, proyeksi resmi The Fed untuk tahun depan hanya memperlihatkan satu kali pemotongan suku bunga. Namun banyak analis menilai bahwa angka tersebut sangat mungkin berubah seiring perkembangan data ekonomi pada kuartal pertama 2026.

Ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed terus bergeser. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed untuk menahan suku bunga bulan depan berada di sekitar 75%, naik dari 70% sebelum keputusan pemangkasan diumumkan.

Pergerakan Mata Uang Utama dalam Sorotan

Selain dolar, sejumlah pasangan mata uang mayor mengalami volatilitas menarik sepanjang sesi perdagangan.

AUD/USD

Pasangan AUD/USD diperdagangkan sedikit di atas area 0,6600, bergerak dalam kisaran sempit setelah menyentuh level tertinggi tiga bulan di 0,6686 pada hari Rabu. Namun, momentum bullish sulit berlanjut karena data tenaga kerja Australia untuk November menunjukkan hasil yang lebih lemah dari ekspektasi. Kondisi ini membuat investor berhati-hati untuk mendorong Aussie lebih tinggi.

USD/JPY

USD/JPY mengalami pemulihan moderat dan kembali naik ke level 155,75, didorong oleh suasana pasar yang cenderung risk-on. Yen Jepang sebagai aset safe haven cenderung melemah ketika pelaku pasar mengambil posisi lebih berisiko.

Fokus utama kini tertuju pada keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ) pekan depan. Jajak pendapat Reuters menunjukkan 90% ekonom memperkirakan BoJ akan menaikkan suku bunga jangka pendek menjadi 0,75% dari 0,50%, jauh lebih tinggi dari survei sebelumnya yang hanya menunjukkan 53% proyeksi kenaikan. Jika BoJ benar-benar melakukan kenaikan, Yen berpotensi menguat tajam dalam jangka pendek.

EUR/USD

Euro bergerak stabil di sekitar 1,1740, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi delapan minggu. Data inflasi Jerman melalui Indeks Harga Konsumen Diharmonisasi (HICP) menunjukkan pertumbuhan 2,6% YoY, sesuai perkiraan dan tetap tidak berubah dari periode sebelumnya. Konsistensi ini memberi sinyal stabilitas bagi euro.

GBP/USD

Poundsterling sedikit melemah ke wilayah 1,3375 setelah laporan PDB Inggris menunjukkan performa yang lebih buruk dari harapan. Ekonomi Inggris ternyata mengalami kontraksi 0,1% pada Oktober—kontraksi kedua berturut-turut—menggugurkan ekspektasi pasar yang memperkirakan pertumbuhan 0,1%.

Emas dan Perak Menguat

Di pasar komoditas, emas bertahan dekat level tertinggi sejak 21 Oktober, yakni sekitar $4.280. Sementara itu, perak juga terus menguat menuju $63,80 dan berpotensi menguji rekor tertingginya selama sesi perdagangan Eropa. Pelemahan dolar menjadi pendorong utama kenaikan harga logam mulia tersebut.

Team

One thought on “Dolar AS Melemah Tiga Pekan Beruntun: Pasar Valas Tunggu Sinyal Baru dari The Fed

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *