Dolar AS kembali menguat setelah sempat melemah akibat lonjakan pemangkasan pekerjaan di AS. Pasar kini menunggu rilis data sentimen konsumen AS dan laporan tenaga kerja Kanada yang dapat menggerakkan arah pasar global.
Dolar AS Menemukan Keseimbangan: Pasar Valas Fokus ke Data Sentimen Konsumen AS
Jakarta, 7 November 2025 — Dolar Amerika Serikat (USD) kembali stabil pada perdagangan Jumat pagi waktu Eropa setelah mengalami tekanan signifikan terhadap sejumlah mata uang utama sehari sebelumnya. Pelaku pasar kini menantikan rilis data Indeks Sentimen Konsumen AS dari Universitas Michigan dan laporan pasar tenaga kerja Kanada, dua indikator ekonomi penting yang berpotensi memicu pergerakan besar di pasar valas menjelang akhir pekan.
Pelemahan Dolar AS Terjadi Setelah Lonjakan PHK di AS
Pada Kamis (6/11), USD melemah tajam menyusul laporan dari Challenger, Gray & Christmas, yang menunjukkan pemangkasan lebih dari 150.000 lapangan kerja di Amerika Serikat sepanjang Oktober — jumlah terbesar untuk bulan yang sama dalam lebih dari dua dekade terakhir.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa sektor teknologi, ritel, dan jasa menjadi penyumbang terbesar dalam gelombang pemutusan hubungan kerja ini. Data tersebut menimbulkan kekhawatiran baru terhadap prospek ekonomi AS yang tengah melambat, memicu aksi jual di pasar saham Wall Street.
Sebagai akibatnya, Indeks Dolar AS (DXY) turun sekitar 0,5% dalam satu hari, mencerminkan tekanan terhadap mata uang AS. Namun pada Jumat pagi, indeks tersebut tampak mulai pulih dan bergerak stabil di kisaran 99,80, menandakan adanya dukungan teknikal dan minat beli baru.
Kebijakan BoE Tahan Suku Bunga, Pound Sterling Menguat
Sementara itu, dari Inggris, Bank of England (BoE) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4% pada rapat kebijakan bulan November. Meski sesuai ekspektasi pasar, keputusan ini disertai dengan perbedaan pendapat internal — di mana empat anggota Komite Kebijakan Moneter (MPC) memilih pemangkasan sebesar 25 basis poin.
Pernyataan Gubernur BoE Andrew Bailey juga menjadi sorotan. Ia menegaskan bahwa bank sentral belum siap menurunkan suku bunga lebih lanjut hingga jalur penurunan inflasi terlihat lebih pasti. Bailey menambahkan bahwa kenaikan biaya tenaga kerja non-upah masih berpotensi menahan laju penurunan inflasi, terutama di sektor jasa.
Meskipun sempat terkoreksi di awal sesi Asia, GBP/USD tetap bertahan di atas level 1,3100 setelah menguat hampir 0,7% pada Kamis. Hal ini menandakan optimisme pasar terhadap stabilitas kebijakan moneter Inggris dalam jangka menengah.
Euro Menguat Tipis, Dolar Australia Mencoba Bangkit
Pasangan EUR/USD juga menunjukkan penguatan moderat sekitar 0,5% pada Kamis, didorong oleh pelemahan USD yang luas. Pada perdagangan Jumat, euro bergerak tenang dan bertahan di bawah 1,1550, menunggu petunjuk ekonomi baru dari zona euro maupun AS.
Sementara itu, dari Asia-Pasifik, data ekonomi Tiongkok menunjukkan bahwa ekspor tumbuh 1,1% yoy dan impor naik 1% pada Oktober. Meski positif, angka tersebut masih di bawah ekspektasi pasar, menandakan permintaan global yang belum pulih sepenuhnya.
Namun demikian, mata uang komoditas seperti Dolar Australia (AUD) mampu bergerak naik menuju 0,6500, didorong oleh minat investor terhadap aset berisiko yang meningkat tipis di sesi Asia.
Yen Jepang dan Harga Emas Menunjukkan Ketahanan
Setelah kehilangan hampir 0,7% pada Kamis, USD/JPY kembali pulih dan diperdagangkan di wilayah positif di sekitar 153,50. Yen Jepang masih menghadapi tekanan karena ketidakpastian terhadap waktu kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ), sementara USD sedikit diuntungkan oleh arus safe haven menjelang rilis data ekonomi penting.
Di sisi lain, harga emas (XAU/USD) tetap bertahan di atas level US$4.000 per ons, mencatat kenaikan marginal pada Kamis. Permintaan emas terus didorong oleh kekhawatiran terhadap ketidakpastian global dan ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan melonggarkan kebijakan moneternya lebih cepat jika pertumbuhan ekonomi AS melambat lebih lanjut.
Fokus Pasar Hari Ini: Data Sentimen Konsumen AS dan Tenaga Kerja Kanada
Sorotan utama hari ini tertuju pada Indeks Sentimen Konsumen AS versi University of Michigan, yang akan memberikan petunjuk penting tentang kepercayaan rumah tangga Amerika terhadap prospek ekonomi dan inflasi.
Selain itu, laporan ketenagakerjaan Kanada juga menjadi perhatian, mengingat pasar tenaga kerja yang kuat di negara tersebut dapat mempengaruhi arah Dolar Kanada (CAD) dan memperkuat volatilitas di pasangan USD/CAD.
Jika data AS menunjukkan pelemahan lebih lanjut dalam kepercayaan konsumen, USD berpotensi kembali terkoreksi karena investor akan semakin yakin pada skenario pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam beberapa bulan mendatang. Namun, bila hasil survei menunjukkan ketahanan belanja konsumen, USD mungkin mendapatkan dorongan baru untuk menutup minggu ini di zona hijau.
Dolar AS di Persimpangan Jalan
Pasar global tengah memasuki fase krusial di mana arah dolar AS akan sangat ditentukan oleh data fundamental dan ekspektasi kebijakan moneter ke depan.
Dengan ketidakpastian ekonomi AS, kebijakan hati-hati BoE, serta data Tiongkok yang campuran, investor disarankan tetap waspada menghadapi potensi fluktuasi besar di pasar valas menjelang penutupan minggu ini.
USD mungkin menemukan dukungan jangka pendek, namun tren jangka menengah masih akan bergantung pada kekuatan fundamental ekonomi Amerika
One thought on “Dolar AS Kembali Bangkit: Fokus Pasar Bergeser ke Data Sentimen Konsumen AS dan Tenaga Kerja Kanada”