Yen Melemah Tak Konsisten: Taruhan Kenaikan Suku Bunga BoJ Menguat, Namun Kekhawatiran Fiskal Jepang Menekan Sentimen

Yen Jepang bergerak tidak stabil di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ, sementara tekanan fiskal dan perlambatan ekonomi Jepang…
1 Min Read 1 31

Yen Jepang bergerak tidak stabil di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ, sementara tekanan fiskal dan perlambatan ekonomi Jepang membatasi penguatan. Simak analisis lengkap sentimen pasar, kebijakan BoJ–The Fed, dan prospek USD/JPY.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga BoJ Menguat

Yen Jepang (JPY) menunjukkan pergerakan yang ragu-ragu pada perdagangan sesi Eropa hari Kamis, meskipun sempat membukukan kenaikan moderat terhadap Dolar AS (USD). Mata uang Jepang ini berupaya mempertahankan momentum penguatan harian, tetapi kurang mampu memaksimalkan reli karena sentimen pasar yang terpecah antara ekspektasi pengetatan kebijakan Bank of Japan (BoJ) dan risiko fiskal domestik yang terus meningkat.

Dalam dua hari terakhir, JPY mencatat penguatan bertahap, ditopang oleh meningkatnya keyakinan bahwa BoJ semakin dekat dengan langkah kenaikan suku bunga—sebuah skenario yang semakin banyak diperhitungkan oleh pelaku pasar. Divergensi kebijakan moneter antara BoJ yang semakin hawkish dan Federal Reserve AS yang condong dovish menjadi pendorong utama yang menahan kenaikan USD dan menjaga Yen tetap menarik secara relatif.

Pasar kini secara aktif memperhitungkan bahwa BoJ dapat mengambil langkah kenaikan suku bunga lebih cepat dari perkiraan awal. Pernyataan Gubernur BoJ Kazuo Ueda pada awal pekan menambah bobot terhadap spekulasi tersebut. Ueda menegaskan bahwa prospek ekonomi dan jalur inflasi Jepang semakin mendekati target, mencerminkan peningkatan kepercayaan bank sentral terhadap pemulihan fundamental.

Sentimen hawkish semakin diperkuat oleh laporan Indeks Harga Barang Korporat (Corporate Goods Price Index/CGPI) yang menunjukkan bahwa inflasi produsen tetap berada di tingkat tinggi. Kondisi ini memberikan dukungan tambahan bagi skenario normalisasi kebijakan moneter lebih lanjut oleh BoJ. Jika inflasi terus bergerak stabil atau bahkan meningkat, tekanan bagi BoJ untuk menaikkan suku bunga akan semakin besar.

Ekspektasi tersebut memberikan dukungan struktural bagi Yen, khususnya ketika dibandingkan dengan kondisi kebijakan moneter AS yang kini bergerak ke arah pelonggaran.

The Fed Semakin Dovish dan Menekan USD

Sementara BoJ bergerak ke arah hawkish, Federal Reserve AS justru mengirim sinyal dovish yang jelas pada pertemuan kebijakan terbarunya. The Fed menurunkan suku bunga seperti yang telah diprediksi sebelumnya dan mengindikasikan kemungkinan pemotongan suku bunga tambahan pada 2026.

Ketua The Fed Jerome Powell menekankan bahwa pasar tenaga kerja AS sedang menghadapi risiko penurunan signifikan, sehingga bank sentral tidak ingin kebijakan moneternya menekan penciptaan lapangan kerja lebih jauh. Pernyataan ini mempertegas perubahan fokus The Fed dari pengendalian inflasi menuju stabilitas pasar tenaga kerja.

Pelaku pasar kini memperkirakan setidaknya dua kali pengurangan suku bunga lagi pada 2026, sebuah proyeksi yang menekan imbal hasil obligasi AS dan membuat USD kesulitan untuk kembali menguat. Divergensi besar antara kebijakan BoJ–The Fed ini menjadi faktor krusial yang mendukung Yen dalam beberapa sesi terakhir.

Kondisi Fiskal Jepang Masih Membebani Sentimen

Meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga memberikan dukungan bagi JPY, kondisi fiskal Jepang yang memburuk menimbulkan hambatan signifikan. Pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi terus mendorong kebijakan reflasi dan stimulus fiskal besar-besaran guna mempercepat pertumbuhan ekonomi yang lemah.

Namun langkah tersebut memperburuk kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal jangka panjang Jepang. Peningkatan pengeluaran pemerintah dan pelebaran defisit menekan kepercayaan investor terhadap fundamental Yen. Akibatnya, potensi penguatan JPY tetap terbatas meskipun kebijakan BoJ menjadi semakin ketat.

Data revisi Produk Domestik Bruto (PDB) terbaru juga menunjukkan bahwa ekonomi Jepang menyusut 0,6% pada kuartal Juli–September dan turun 2,3% secara tahunan — kontraksi tercepat sejak Q3 2023. Angka ini menegaskan bahwa ekonomi Jepang masih berada dalam fase rentan.

Namun, harapan terhadap kenaikan upah yang berkelanjutan menjadi penyeimbang. Jika pertumbuhan upah tetap kuat, daya beli rumah tangga dapat meningkat dan mendorong konsumsi domestik—yang pada akhirnya membantu mendorong inflasi yang lebih berkelanjutan.

USD/JPY: Tekanan Teknis Masih Berlanjut

Dari perspektif teknikal, pasangan USD/JPY mengalami kesulitan mempertahankan posisi di atas level 156,00. Penembusan di bawah Simple Moving Average (SMA) 100-jam membuka peluang koreksi lebih dalam, terutama dengan osilator jangka pendek menunjukkan momentum bearish.

Jika pasangan ini jatuh di bawah dukungan psikologis 155,00, prospek jangka pendek bisa berubah menjadi lebih negatif, membuka ruang bagi penurunan tambahan menuju zona 154,50 atau lebih rendah.

Namun, pada grafik harian, indikator teknis masih berada di wilayah positif, menandakan bahwa setiap penurunan mungkin akan menarik pembeli baru. Area 155,35–155,30 kini menjadi titik kunci sebagai batas atas kisaran perdagangan sebelumnya. Selama area ini bertahan sebagai support, peluang untuk rebound tetap terbuka.

Di sisi upside, penguatan konsisten di atas 156,00 dapat menjadi katalis menuju 156,60–156,65, lalu 157,00 — level tertinggi dua minggu yang tercapai pada Selasa. Jika momentum bullish berlanjut, USD/JPY berpotensi menguji rintangan 157,45 sebelum menargetkan kembali area 158,00, level tertinggi beberapa bulan terakhir.

Yen Jepang saat ini berada dalam kondisi tarik-menarik yang kuat antara ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ dan kekhawatiran fiskal yang menekan sentimen. Divergensi kebijakan BoJ–The Fed menempatkan JPY pada posisi yang lebih menguntungkan secara makro, tetapi risiko fiskal dan pemulihan ekonomi yang rapuh tetap menjadi hambatan utama.

Pergerakan USD/JPY pada sesi berikutnya kemungkinan besar akan dipengaruhi oleh data tenaga kerja AS, perkembangan kebijakan BoJ, serta dinamika risiko global.

Team

One thought on “Yen Melemah Tak Konsisten: Taruhan Kenaikan Suku Bunga BoJ Menguat, Namun Kekhawatiran Fiskal Jepang Menekan Sentimen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *