Yen Jepang Bertahan Menguat

Yen Jepang mempertahankan penguatan di tengah ekspektasi kebijakan hawkish Bank of Japan dan meningkatnya risiko geopolitik. Perbedaan arah kebijakan BoJ…
1 Min Read 1 13

Yen Jepang mempertahankan penguatan di tengah ekspektasi kebijakan hawkish Bank of Japan dan meningkatnya risiko geopolitik. Perbedaan arah kebijakan BoJ dan The Fed membatasi ruang kenaikan USD/JPY.

Taruhan Hawkish BoJ dan Risiko Global Menopang JPY

Yen Jepang (JPY) mempertahankan penguatan moderat terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan awal sesi Eropa hari Rabu, meskipun laju kenaikannya masih terlihat terbatas. Pergerakan ini mencerminkan keseimbangan yang rapuh antara sentimen positif terhadap prospek kebijakan moneter Jepang dan sejumlah faktor fundamental yang masih menahan investor untuk mengambil posisi agresif pada JPY.

Salah satu pendorong utama penguatan yen adalah meningkatnya keyakinan pasar bahwa Bank of Japan (BoJ) akan tetap berada di jalur normalisasi kebijakan moneternya. Sikap ini kontras dengan ekspektasi yang semakin dovish terhadap Federal Reserve AS (The Fed), yang diperkirakan akan memangkas suku bunga lebih lanjut pada tahun ini. Perbedaan arah kebijakan moneter tersebut mempersempit selisih imbal hasil antara Jepang dan Amerika Serikat, sehingga mengurangi tekanan struktural terhadap yen yang selama bertahun-tahun tertekan oleh kebijakan ultra-longgar BoJ.

Selain faktor kebijakan moneter, meningkatnya ketegangan geopolitik global turut memperkuat daya tarik yen sebagai aset safe-haven. Dalam kondisi ketidakpastian, investor cenderung mengalihkan sebagian portofolio mereka ke mata uang dengan profil risiko lebih rendah, dan yen Jepang secara historis termasuk dalam kategori tersebut.

Ketidakpastian Waktu Kenaikan Suku Bunga BoJ Masih Membayangi

Meski demikian, penguatan yen belum sepenuhnya solid. Investor masih dihadapkan pada ketidakpastian terkait waktu pasti kenaikan suku bunga BoJ berikutnya. Sejumlah faktor domestik dinilai berpotensi menahan laju inflasi Jepang, termasuk subsidi energi yang diperpanjang, stabilnya harga beras, serta biaya minyak yang relatif rendah. Kondisi tersebut memunculkan ekspektasi bahwa tekanan inflasi dapat tetap terkendali hingga 2026, sehingga memberi ruang bagi BoJ untuk bersikap lebih berhati-hati.

Di sisi fiskal, posisi anggaran Jepang juga menjadi sumber kekhawatiran pasar. Kabinet Jepang baru-baru ini menyetujui anggaran rekor sebesar ¥122,3 triliun yang diajukan oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi. Besarnya anggaran ini menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan fiskal Jepang dalam jangka menengah, yang pada gilirannya dapat membatasi minat investor untuk mengoleksi yen secara agresif.

Pernyataan Ueda Perkuat Narasi Hawkish Bertahap

Dukungan tambahan bagi yen datang dari pernyataan Gubernur BoJ Kazuo Ueda, yang menegaskan bahwa bank sentral akan terus menaikkan suku bunga jika perkembangan ekonomi dan harga bergerak sesuai dengan proyeksi. Ueda menekankan bahwa penyesuaian kebijakan moneter bertujuan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, sembari mengisyaratkan bahwa upah dan harga berpotensi meningkat secara moderat dalam jangka menengah.

Pernyataan ini menjaga ekspektasi pasar tetap terbuka terhadap pengetatan kebijakan lanjutan, meskipun dilakukan secara bertahap dan sangat bergantung pada data. Dampaknya, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) ikut terdorong naik, dengan JGB tenor dua tahun dan obligasi acuan 10 tahun mencapai level tertinggi masing-masing sejak 1996 dan 1999. Kenaikan imbal hasil ini mempersempit diferensial suku bunga Jepang dengan negara maju lainnya, sehingga menahan tekanan jual pada yen.

USD Tertekan Ekspektasi Dovish The Fed

Di sisi lain, Dolar AS masih kesulitan mempertahankan momentum penguatan, meskipun sempat mencatat kenaikan terbatas pada sesi sebelumnya. Meningkatnya taruhan pasar terhadap pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Fed terus membebani USD, terlebih di tengah kekhawatiran mengenai independensi bank sentral AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menjelang serangkaian rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Agenda Rabu mencakup laporan ADP Employment Change, PMI Jasa ISM, dan Lowongan Pekerjaan JOLTS. Namun, perhatian utama tetap tertuju pada laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS hari Jumat, yang berpotensi menjadi penentu arah USD dalam jangka pendek, terutama menjelang rilis data inflasi konsumen AS pekan depan.

USD/JPY Uji Support Kritis 156,15

Dari perspektif teknikal, pergerakan USD/JPY terbaru mengonfirmasi pentingnya support pertemuan di area 156,15. Level ini merupakan kombinasi dari Simple Moving Average (SMA) 100 periode pada grafik 4 jam dan batas bawah ascending channel jangka pendek. Zona tersebut kini menjadi titik kunci yang diamati oleh pelaku pasar.

Penembusan yang meyakinkan di bawah 156,15 berpotensi memicu minat jual lanjutan dan membuka jalan bagi koreksi yang lebih dalam. Namun, indikator teknikal menunjukkan bahwa momentum bearish masih terbatas. Histogram MACD berada sedikit di wilayah negatif namun mulai menyusut di sekitar garis nol, menandakan tekanan jual mulai kehilangan tenaga. Sementara itu, RSI berada di level 52, netral dengan kecenderungan positif ringan, mencerminkan kondisi konsolidasi.

SMA yang masih menanjak mendukung strategi buy on dips, meskipun lemahnya MACD mengindikasikan bahwa ruang kenaikan dalam waktu dekat masih terbatas. Resistance terdekat berada di area 157,15, yang bertepatan dengan batas atas saluran. Penutupan harga di atas level tersebut dapat membuka peluang kenaikan lanjutan, sedangkan kegagalan menembusnya akan menjaga USD/JPY bergerak dalam rentang terbatas.

Yen Stabil, Pasar Menanti Katalis

Secara keseluruhan, Yen Jepang tetap berada di jalur penguatan moderat, didukung oleh ekspektasi kebijakan BoJ yang relatif hawkish dan meningkatnya permintaan safe-haven. Namun, ketidakpastian domestik dan kehati-hatian investor menjelang data ekonomi AS utama membuat pergerakan JPY masih bersifat terbatas.

Dalam jangka pendek, arah USD/JPY akan sangat ditentukan oleh hasil data tenaga kerja AS dan sinyal lanjutan dari The Fed, serta sejauh mana BoJ mempertahankan narasi normalisasi kebijakannya. Selama perbedaan kebijakan BoJ–The Fed tetap lebar, yen berpotensi mempertahankan posisinya sebagai salah satu mata uang dengan kinerja relatif stabil di tengah volatilitas global.

Team

One thought on “Yen Jepang Bertahan Menguat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *