Pound Sterling Perkasa di Atas 1,34

Pound Sterling menguat mendekati 1,3490 terhadap dolar AS didorong pelemahan Greenback akibat konflik AS–UE soal Greenland dan sentimen “Sell America”…
1 Min Read 0 4

Pound Sterling menguat mendekati 1,3490 terhadap dolar AS didorong pelemahan Greenback akibat konflik AS–UE soal Greenland dan sentimen “Sell America” yang kian meluas.

Dolar AS Tertekan Konflik AS–UE dan Isu Greenland

Nilai tukar Pound Sterling (GBP) melanjutkan penguatannya terhadap Dolar AS (USD) dan mendekati level 1,3490 pada perdagangan sesi Eropa hari Selasa. Kenaikan ini menandai kelanjutan reli yang telah dimulai sejak awal pekan, di tengah melemahnya dolar AS secara luas akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Uni Eropa terkait masa depan Greenland.

Pasangan GBP/USD bergerak stabil di zona positif, mencerminkan kombinasi sentimen eksternal yang mendukung mata uang Inggris serta tekanan yang semakin besar terhadap Greenback. Fenomena perdagangan “Sell America” kembali menguat, dengan investor global mulai mengurangi eksposur terhadap aset berbasis dolar AS di tengah kekhawatiran terhadap arah kebijakan luar negeri dan perdagangan Washington.

Dolar AS Tertekan, Indeks DXY Terus Merosot

Pelemahan dolar AS terlihat jelas dari pergerakan Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja Greenback terhadap enam mata uang utama dunia. Pada saat artikel ini ditulis, DXY tercatat turun sekitar 0,54% ke area 98,50, menandai tekanan berkelanjutan yang telah berlangsung selama beberapa sesi terakhir.

Penurunan indeks dolar mencerminkan berkurangnya kepercayaan pasar terhadap stabilitas kebijakan Amerika Serikat, khususnya setelah Presiden Donald Trump kembali memicu ketegangan diplomatik dengan Eropa. Ketidakpastian geopolitik ini membuat dolar AS kehilangan daya tariknya sebagai aset lindung nilai jangka pendek.

Konflik AS–UE soal Greenland Picu “Sell America”

Akar pelemahan dolar AS kali ini tidak lepas dari meningkatnya perselisihan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa terkait isu Greenland. Selama akhir pekan, Presiden Trump mengumumkan pengenaan tarif impor sebesar 10% terhadap sejumlah negara anggota UE dan juga Inggris. Kebijakan tersebut disebut sebagai respons atas penolakan Eropa dan Inggris terhadap rencana Washington untuk mengakuisisi Greenland.

Trump bahkan membuka kemungkinan kenaikan tarif lanjutan, sebuah langkah yang dinilai pasar sebagai sinyal eskalasi perang dagang baru. Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari para pemimpin Eropa. Sejumlah pejabat tinggi Uni Eropa secara terbuka mengkritik langkah Washington, sementara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menilai kebijakan tersebut berpotensi merusak stabilitas ekonomi global.

Respons negatif dari sekutu tradisional AS ini semakin memperdalam kekhawatiran investor bahwa hubungan transatlantik dapat memasuki fase paling tegang dalam beberapa dekade terakhir.

Dampak Jangka Panjang terhadap Aset AS

Para analis pasar memperingatkan bahwa konflik AS–UE yang berkepanjangan dapat membawa dampak struktural terhadap posisi dolar AS di pasar global. Hilangnya kepercayaan terhadap kepemimpinan Trump, ditambah memburuknya hubungan dengan beberapa ekonomi terbesar dunia, berisiko mengurangi minat investor asing terhadap aset keuangan Amerika Serikat dalam jangka panjang.

Jika ketegangan ini terus berlanjut, pasar memperkirakan arus modal global akan mulai bergeser ke mata uang alternatif seperti Pound Sterling, Euro, atau bahkan mata uang safe haven non-dolar. Dalam konteks inilah, penguatan GBP terhadap USD dipandang bukan sekadar pergerakan teknikal, melainkan refleksi perubahan sentimen global yang lebih luas.

Data Ketenagakerjaan Inggris Beri Dukungan Tambahan

Dari sisi domestik Inggris, data ketenagakerjaan yang dirilis baru-baru ini memberikan dukungan moderat bagi Pound Sterling. Laporan menunjukkan bahwa pengusaha di Inggris merekrut sekitar 82 ribu pekerja baru dalam periode tiga bulan yang berakhir pada November. Angka ini menandakan bahwa pasar tenaga kerja Inggris masih menunjukkan ketahanan, meskipun ekonomi global tengah diliputi ketidakpastian.

Sementara itu, tingkat pengangguran Inggris tercatat stabil, mengindikasikan bahwa perlambatan ekonomi belum memberikan dampak signifikan terhadap lapangan kerja. Namun demikian, data ketenagakerjaan tersebut dinilai beragam, karena beberapa indikator lain menunjukkan laju perekrutan yang mulai melambat dibandingkan periode sebelumnya.

Meski bukan faktor utama penguatan GBP kali ini, data tenaga kerja yang relatif solid membantu menjaga sentimen positif terhadap mata uang Inggris, terutama saat dolar AS berada di bawah tekanan kuat.

Prospek GBP/USD ke Depan

Secara keseluruhan, pergerakan GBP/USD saat ini lebih banyak didorong oleh faktor eksternal, khususnya pelemahan dolar AS akibat isu geopolitik dan kebijakan perdagangan. Selama sentimen “Sell America” tetap dominan, peluang Pound Sterling untuk mempertahankan posisinya di atas area 1,3400 masih terbuka.

Namun, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai volatilitas tinggi. Setiap perubahan sikap dari Gedung Putih, sinyal de-eskalasi konflik AS–UE, atau pernyataan kebijakan dari bank sentral utama dapat dengan cepat mengubah arah pasar.

Dari sisi Inggris, fokus investor selanjutnya akan tertuju pada sinyal kebijakan Bank of England (BoE) serta perkembangan ekonomi domestik, yang akan menentukan apakah penguatan Pound Sterling dapat berlanjut secara berkelanjutan.

Penguatan Pound Sterling mendekati 1,3490 terhadap dolar AS mencerminkan kombinasi antara pelemahan struktural Greenback, meningkatnya konflik geopolitik AS–UE terkait Greenland, serta sentimen pasar yang semakin menjauh dari aset Amerika. Dengan ketegangan global yang masih tinggi dan kepercayaan terhadap dolar AS yang terus tergerus, GBP/USD berpotensi tetap berada dalam tren naik dalam jangka pendek, meskipun dengan risiko volatilitas yang tetap signifikan.

Team

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *