NZD/USD melemah dari level tertinggi empat bulan dan turun di bawah 0,5900 akibat pemulihan moderat Dolar AS. Namun, inflasi Selandia Baru yang tinggi dan perbedaan kebijakan RBNZ–The Fed berpotensi membatasi penurunan lanjutan pasangan ini.
Tekanan USD Hanya Sementara di Tengah Prospek Kebijakan RBNZ yang Hawkish
Pasangan mata uang NZD/USD mengalami koreksi ringan setelah gagal mempertahankan momentum kenaikan yang membawanya ke level tertinggi dalam hampir empat bulan. Pada perdagangan Jumat, pasangan ini mundur dari area 0,5930—level puncak yang dicapai sebagai respons terhadap rilis data inflasi Selandia Baru yang lebih tinggi dari ekspektasi—dan turun kembali ke bawah 0,5900 selama paruh pertama sesi Eropa. Meski demikian, tekanan jual yang muncul sejauh ini masih tergolong terbatas dan belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan tren yang meyakinkan.
Secara harian, NZD/USD tercatat melemah sekitar 0,15%, namun struktur fundamental yang mendasari pergerakan harga masih relatif mendukung mata uang Kiwi. Koreksi ini lebih mencerminkan aksi ambil untung jangka pendek ketimbang perubahan sentimen pasar secara menyeluruh, terutama setelah reli tajam hampir 200 poin yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Dorongan utama penguatan NZD sebelumnya berasal dari laporan Statistics New Zealand, yang menunjukkan bahwa inflasi konsumen tahunan naik menjadi 3,1% pada kuartal keempat, melampaui kisaran target bank sentral. Angka tersebut memperkuat spekulasi bahwa Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) masih memiliki ruang untuk mempertahankan sikap kebijakan yang ketat, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan di akhir tahun ini jika tekanan harga tetap bertahan.
Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih hawkish dari RBNZ menjadi faktor penting yang menopang NZD, khususnya ketika dibandingkan dengan prospek kebijakan Federal Reserve AS yang mulai condong ke arah pelonggaran. Perbedaan arah kebijakan inilah yang membuat setiap pelemahan NZD/USD sejauh ini cenderung bersifat dangkal dan menarik minat beli di area harga yang lebih rendah.
Selain faktor domestik Selandia Baru, sentimen global juga turut berperan dalam membatasi tekanan turun. Nada positif di pasar ekuitas global terus menopang aset berisiko, termasuk Dolar Selandia Baru yang dikenal sensitif terhadap perubahan selera risiko investor. Selama sentimen risk-on ini bertahan, tekanan jual agresif pada NZD/USD diperkirakan akan sulit berkembang secara signifikan.
Di sisi lain, pemulihan moderat Dolar AS (USD) menjadi faktor utama yang memicu koreksi terbaru pada pasangan ini. Penguatan USD sebagian besar didorong oleh aksi profit taking dan penyesuaian posisi menjelang rilis data ekonomi penting AS, bukan karena perubahan fundamental yang besar. Indeks Dolar AS mencoba bangkit dari level terendah dua pekan, namun ruang penguatannya tetap terbatas.
Pasar saat ini masih memegang keyakinan bahwa The Fed berpotensi menurunkan suku bunga setidaknya dua kali tahun ini, seiring dengan melambatnya tekanan inflasi dan tanda-tanda pendinginan pasar tenaga kerja AS. Ekspektasi tersebut menjadi penghambat utama bagi reli USD yang lebih kuat dan, pada saat yang sama, membantu menahan penurunan lebih dalam pada NZD/USD.
Perbedaan ekspektasi kebijakan antara RBNZ yang cenderung hawkish dan The Fed yang semakin dovish menciptakan latar belakang fundamental yang relatif konstruktif bagi pasangan ini. Selama narasi tersebut tidak berubah secara drastis, koreksi NZD/USD kemungkinan akan dipandang sebagai peluang konsolidasi sehat, bukan awal tren turun yang berkelanjutan.
Dari sudut pandang teknikal, prospek jangka menengah NZD/USD juga masih terlihat positif. Penembusan harga di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari, yang terjadi pada sesi sebelumnya, merupakan sinyal teknikal penting yang sering diinterpretasikan sebagai indikasi perubahan bias ke arah bullish. Selama harga mampu bertahan di atas area support kunci ini, para pelaku pasar cenderung berhati-hati untuk mengambil posisi jual agresif.
Oleh karena itu, banyak analis menilai bahwa dibutuhkan tekanan jual yang jauh lebih kuat dan berkelanjutan untuk mengonfirmasi bahwa NZD/USD telah mencapai puncak sementara dan siap memasuki fase koreksi yang lebih dalam. Tanpa katalis fundamental yang jelas, potensi penurunan kemungkinan akan tetap terbatas di atas area support psikologis utama.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada rilis PMI pendahuluan Amerika Serikat, yang berpotensi memberikan arah jangka pendek bagi pergerakan USD. Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk menilai kesehatan sektor manufaktur dan jasa AS, serta dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.
Jika data PMI AS mengecewakan, tekanan pada USD dapat kembali meningkat dan membuka peluang bagi NZD/USD untuk melanjutkan tren naiknya. Sebaliknya, hasil yang lebih kuat dari perkiraan bisa memicu penguatan USD sementara, meski dampaknya diperkirakan tetap terbatas selama perbedaan kebijakan moneter RBNZ–The Fed masih berpihak pada Dolar Selandia Baru.
Secara keseluruhan, penurunan NZD/USD di bawah 0,5900 saat ini lebih mencerminkan koreksi teknis dan penyesuaian posisi jangka pendek, bukan perubahan arah tren utama. Dengan inflasi Selandia Baru yang masih tinggi, sentimen risiko global yang relatif kondusif, serta prospek kebijakan moneter yang berbeda antara RBNZ dan The Fed, pasangan ini tetap memiliki fondasi yang cukup kuat untuk bertahan dan berpotensi kembali menguji level tertinggi terbarunya dalam waktu mendatang.