Saham BBNI Melonjak di Atas 3% ke 4.390

Saham BBNI melonjak lebih dari 3% ke level 4.390 seiring berlangsungnya RUPS Luar Biasa dan meningkatnya optimisme investor menjelang keputusan…
1 Min Read 1 26

Saham BBNI melonjak lebih dari 3% ke level 4.390 seiring berlangsungnya RUPS Luar Biasa dan meningkatnya optimisme investor menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia pekan ini.

BBNI Bangkit dan Akhiri Tren Pelemahan

Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) mengawali pekan perdagangan dengan performa impresif. Pada perdagangan Senin, saham BBNI melonjak lebih dari 3% ke level 4.390, sekaligus mengakhiri rangkaian tiga penutupan merah berturut-turut yang terjadi pada pekan sebelumnya. Kenaikan ini terjadi bertepatan dengan pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa, yang menjadi katalis utama pergerakan harga saham hari ini.

Pada awal sesi, BBNI dibuka dengan gap up tipis di level 4.270, mencerminkan sentimen positif sejak pembukaan pasar. Namun, dalam satu jam pertama perdagangan, saham ini sempat tertekan dan menyentuh level terendah harian di 4.230. Tekanan jual tersebut tidak bertahan lama. Minat beli kembali muncul dan mendorong harga saham berbalik arah secara signifikan hingga mencetak level tertinggi harian di 4.390.

Rebound yang cepat ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih memandang BBNI sebagai saham perbankan besar dengan fundamental kuat, terutama di tengah momentum korporasi dan ekspektasi kebijakan moneter yang relatif kondusif.

RUPS Luar Biasa Jadi Perhatian Investor

Salah satu faktor utama yang menopang sentimen positif terhadap saham BBNI adalah pelaksanaan RUPS Luar Biasa yang telah diumumkan sebelumnya melalui keterbukaan informasi. RUPS Luar Biasa tersebut diselenggarakan pada Senin, 15 Desember 2025, pukul 07.00 GMT (14.00 WIB) di Jakarta. Adapun recording date bagi pemegang saham yang berhak hadir telah ditetapkan pada 20 November 2025.

Dalam agenda RUPS Luar Biasa ini, terdapat empat poin penting yang menjadi perhatian investor, yaitu:

1. Perubahan anggaran dasar perseroan, yang berpotensi mencerminkan penyesuaian strategi jangka panjang perusahaan.

2 Pendelegasian kewenangan persetujuan rencana kerja dan anggaran perusahaan tahun 2026, yang memberikan fleksibilitas manajemen dalam mengeksekusi strategi bisnis.

3. Persetujuan atas hasil pengkinian dokumen rencana aksi pemulihan (Recovery Plan) BBNI untuk periode 2025–2026, yang merupakan aspek penting dalam menjaga ketahanan permodalan dan stabilitas bank.

4. Pengukuhan pemberhentian anggota dewan komisaris, yang dapat berdampak pada struktur tata kelola perusahaan.

Agenda-agenda tersebut dinilai strategis dan menjadi sinyal bahwa perseroan terus memperkuat fondasi operasional dan tata kelola di tengah dinamika ekonomi dan industri perbankan yang terus berkembang.

Keputusan Suku Bunga BI Jadi Katalis Lanjutan

Selain RUPS Luar Biasa, pasar juga mencermati keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan pada Rabu, 17 Desember 2025. Kebijakan moneter ini dipandang sebagai salah satu peristiwa terpenting bagi sektor perbankan dalam pekan berjalan.

Sejauh ini, Bank Indonesia telah mempertahankan BI-Rate di level 4,75% selama tiga pertemuan berturut-turut, yakni sejak September hingga November 2025. Stabilitas suku bunga tersebut memberikan ruang bagi perbankan untuk menjaga margin bunga bersih (NIM) sekaligus mengelola pertumbuhan kredit secara lebih terukur.

Bagi saham-saham bank besar seperti BBNI, kepastian arah kebijakan BI sangat penting karena akan memengaruhi biaya dana, permintaan kredit, serta persepsi risiko investor terhadap sektor keuangan secara keseluruhan. Tidak mengherankan jika pelaku pasar cenderung mulai melakukan positioning menjelang pengumuman kebijakan tersebut.

Analisis Teknikal: BBNI Masih dalam Tren Bullish Jangka Panjang

Dari perspektif teknikal, pergerakan saham BBNI masih menunjukkan tren bullish dalam jangka panjang. Hal ini tercermin dari posisi harga yang tetap bertahan di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari, sebuah indikator penting yang sering digunakan untuk menilai arah tren utama.

Namun, dalam jangka pendek, BBNI masih bergerak dalam fase konsolidasi atau sideways sejak akhir Oktober 2025. Pola pergerakan ini mengindikasikan bahwa keseimbangan antara tekanan beli dan jual masih relatif seimbang, dengan investor menunggu katalis yang lebih kuat untuk menentukan arah pergerakan berikutnya.

Indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari saat ini berada di level 56, setelah sebelumnya sempat berada di bawah level netral 50. Kenaikan RSI ini mengindikasikan bahwa momentum mulai bergeser ke arah bullish, sejalan dengan lonjakan harga pada perdagangan hari ini.

Level Resistance dan Support yang Perlu Dicermati

Jika momentum positif mampu dipertahankan, saham BBNI berpotensi menghadapi sejumlah level resistance penting, antara lain:

* 4.560, yang merupakan level tertinggi pada 19 November 2025,

* 4.880, sebagai level tertinggi tahun 2025 yang tercapai pada 31 Januari,

* 5.175, yang merupakan puncak harga pada 11 Desember 2024.

Penembusan yang meyakinkan di atas area resistance tersebut dapat membuka peluang bagi kelanjutan tren naik dalam jangka menengah hingga panjang.

Sebaliknya, jika BBNI kembali bergerak melemah dan menembus sisi bawah area konsolidasi, maka saham ini berisiko menguji beberapa level support teknikal, yakni:

* 4.020 (terendah 9 September 2025),

* 3.720 (terendah 15 Oktober 2025),

* 3.610, yang merupakan level terendah tahun 2025 pada 8 April.

Lonjakan saham BBNI lebih dari 3% ke level 4.390 mencerminkan kembalinya optimisme investor, seiring berlangsungnya RUPS Luar Biasa dan meningkatnya perhatian pasar terhadap arah kebijakan Bank Indonesia. Secara teknikal, tren jangka panjang BBNI masih bullish, meskipun pergerakan jangka pendek masih berada dalam fase konsolidasi. Dengan kombinasi katalis korporasi dan faktor makroekonomi, saham BBNI berpotensi menjadi salah satu emiten perbankan yang menarik untuk dicermati dalam waktu dekat.

Team

One thought on “Saham BBNI Melonjak di Atas 3% ke 4.390

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *