Pound Sterling tertinggal di pasar valuta asing akibat kekhawatiran volatilitas obligasi Inggris. ING menilai data inflasi Desember tidak cukup kuat untuk mengubah prospek kebijakan Bank of England.
Sterling dan Volatilitas Obligasi: Hubungan yang Masih Rapuh
Pound Sterling (GBP) kembali menunjukkan kinerja yang relatif tertinggal dibandingkan mata uang utama lainnya, seiring munculnya kembali kekhawatiran pasar terhadap volatilitas obligasi Inggris. Menurut analis valas ING, Francesco Pesole, pelemahan terbaru Sterling mencerminkan sensitivitas mata uang ini terhadap dinamika pasar obligasi, terutama dalam konteks ketidakpastian fiskal dan perubahan korelasi antara nilai tukar dan imbal hasil obligasi.
Meski demikian, ING menilai bahwa jika kondisi pasar obligasi kembali tenang, pasangan EUR/GBP berpotensi mengalami tekanan turun dan kembali bergerak di bawah level 0,870, sebuah area yang kerap menjadi acuan sentimen relatif antara Euro dan Pound.
Dalam beberapa bulan terakhir, Sterling menunjukkan pola korelasi yang tidak biasa dengan imbal hasil obligasi pemerintah Inggris. Biasanya, kenaikan imbal hasil mendukung mata uang, namun dalam periode tertentu, kekhawatiran fiskal justru membuat kenaikan imbal hasil dipandang sebagai faktor risiko, bukan daya tarik.
Pesole menilai bahwa kinerja GBP yang kurang memuaskan pada sesi sebelumnya sebagian besar mencerminkan risiko “mengimpor” volatilitas obligasi ke pasar valuta asing. Ketika pasar obligasi bergejolak, Sterling cenderung menjadi salah satu mata uang yang paling cepat bereaksi negatif, mengingat sensitivitas investor global terhadap stabilitas fiskal Inggris.
Namun, dengan kondisi pasar yang relatif lebih tenang pada sesi pagi berikutnya, tekanan terhadap Pound mulai mereda. Situasi ini membuka peluang bagi EUR/GBP untuk bergerak lebih rendah, mencerminkan pemulihan relatif Sterling jika volatilitas obligasi tidak kembali meningkat.
Data Inflasi Inggris: Minim Kejutan bagi Bank of England
Dari sisi data ekonomi, laporan inflasi Inggris bulan Desember yang dirilis baru-baru ini dinilai tidak membawa kejutan besar bagi Bank of England (BoE). ING menilai bahwa angka-angka tersebut tidak cukup signifikan untuk mengubah pandangan kebijakan moneter pada pertemuan BoE bulan Februari mendatang.
Salah satu indikator yang paling diperhatikan oleh BoE adalah inflasi layanan inti, yang mengecualikan komponen volatil dan terindeks. Menurut ekonom Inggris ING, James Smith, ukuran ini tercatat stabil di 4,0% untuk bulan ketiga berturut-turut. Konsistensi ini mengindikasikan bahwa tekanan inflasi domestik belum menunjukkan percepatan baru, tetapi juga belum cukup melambat untuk mendorong perubahan kebijakan yang agresif.
Inflasi Headline Naik, Dipicu Harga Makanan
Inflasi headline Inggris tercatat sedikit lebih tinggi dari konsensus pasar, berada di 3,4%. Namun, kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh lonjakan harga makanan, yang naik menjadi 4,5%.
Komponen makanan memang menjadi perhatian khusus bagi anggota Monetary Policy Committee (MPC) BoE, mengingat dampaknya langsung terhadap biaya hidup rumah tangga. Meski demikian, tingkat inflasi makanan tersebut masih berada jauh di bawah proyeksi BoE sebesar 5,3%, sehingga belum cukup untuk memicu kekhawatiran inflasi yang berlebihan.
Dengan kata lain, meskipun inflasi headline sedikit meningkat, struktur inflasi secara keseluruhan masih sejalan dengan ekspektasi BoE, memperkuat pandangan bahwa bank sentral dapat mempertahankan pendekatan yang hati-hati dan berbasis data.
Implikasi terhadap Kebijakan Bank of England
Kombinasi antara data inflasi yang relatif stabil dan sensitivitas pasar terhadap volatilitas obligasi membuat BoE berada dalam posisi yang kompleks. Di satu sisi, inflasi layanan inti yang masih tinggi menunjukkan bahwa tekanan domestik belum sepenuhnya mereda. Di sisi lain, tidak adanya kejutan besar dalam data terbaru memberi BoE ruang untuk menahan diri dari perubahan kebijakan yang terburu-buru.
ING menilai bahwa laporan inflasi Desember tidak mengubah prospek kebijakan BoE secara material. Pasar masih melihat BoE akan bergerak lebih lambat dan hati-hati dibandingkan beberapa bank sentral utama lainnya, dengan fokus utama pada stabilitas harga dan risiko terhadap pertumbuhan.
Dampak ke Pasar Valas: Fokus pada EUR/GBP
Dalam konteks pasar valuta asing, dinamika ini membuat pasangan EUR/GBP menjadi salah satu barometer utama sentimen terhadap Sterling. Ketika volatilitas obligasi mereda, Sterling cenderung mendapatkan sedikit ruang bernapas, memungkinkan EUR/GBP untuk bergerak lebih rendah.
Namun, jika gejolak kembali muncul di pasar obligasi—baik karena isu fiskal maupun faktor eksternal—Sterling berisiko kembali tertinggal, terlepas dari data inflasi yang relatif stabil.
Prospek Jangka Pendek Sterling
Ke depan, kinerja Pound kemungkinan akan tetap sangat bergantung pada stabilitas pasar obligasi Inggris serta komunikasi kebijakan dari BoE. Selama tidak ada lonjakan volatilitas yang signifikan dan data ekonomi tetap sejalan dengan ekspektasi, Sterling berpeluang untuk bergerak lebih stabil, meskipun belum tentu unggul secara signifikan dibandingkan mata uang utama lainnya.
Investor dan trader diperkirakan akan terus memantau perkembangan fiskal, arah imbal hasil obligasi, serta sinyal dari MPC untuk menentukan posisi terhadap GBP.
Secara keseluruhan, pelemahan terbaru Pound Sterling mencerminkan kerentanan terhadap volatilitas obligasi, bukan perubahan fundamental yang signifikan dalam prospek inflasi atau kebijakan moneter Inggris. Data inflasi Desember dinilai tidak cukup kuat untuk mengubah arah Bank of England, sementara ketenangan pasar obligasi dapat memberikan dukungan sementara bagi Sterling.
Namun, selama sensitivitas terhadap volatilitas obligasi tetap tinggi, GBP kemungkinan akan terus bergerak dengan hati-hati dan rentan terhadap perubahan sentimen, menjadikannya salah satu mata uang yang paling bergantung pada stabilitas pasar keuangan domestik dalam jangka pendek.