Yen Jepang Melemah di Tengah Ketidakpastian Kenaikan Suku Bunga BoJ, USD/JPY Bertahan Dekat 153,00

Yen Jepang (JPY) melemah terhadap Dolar AS (USD) karena ketidakpastian mengenai kebijakan suku bunga Bank of Japan (BoJ) dan rencana…
1 Min Read 1 40

Yen Jepang (JPY) melemah terhadap Dolar AS (USD) karena ketidakpastian mengenai kebijakan suku bunga Bank of Japan (BoJ) dan rencana stimulus ekonomi besar-besaran. Sementara itu, USD/JPY bertahan di sekitar 153,00 di tengah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed dan kekhawatiran fiskal AS.

Tekanan terhadap Yen Meningkat karena Data Domestik yang Lemah

Yen Jepang (JPY) kembali melemah terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Jumat (7/11/2025), setelah sebelumnya sempat menyentuh puncak tertinggi lebih dari satu minggu. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian mengenai waktu kenaikan suku bunga berikutnya oleh Bank of Japan (BoJ), serta sinyal stimulus ekonomi baru dari pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi.

Para investor kini menilai bahwa BoJ kemungkinan akan menahan diri untuk tidak segera melakukan pengetatan kebijakan, seiring dengan tanda-tanda perlambatan konsumsi pribadi dan kebijakan pro-stimulus pemerintah Jepang. Kombinasi faktor-faktor tersebut mendorong penurunan nilai tukar Yen, sementara Dolar AS mendapatkan sedikit dukungan dari pembelian teknikal.

Data ekonomi Jepang terbaru menunjukkan tanda-tanda melemahnya pengeluaran rumah tangga. Berdasarkan laporan pemerintah, belanja rumah tangga naik 1,8% pada September dibanding tahun sebelumnya — lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 2,5% dan pertumbuhan 2,3% di bulan sebelumnya.

Secara bulanan (month-to-month), pengeluaran justru turun 0,7%, menandakan bahwa konsumsi swasta mulai kehilangan momentum. Pelemahan belanja ini menjadi sinyal negatif bagi perekonomian Jepang yang masih bergantung pada konsumsi domestik untuk menopang pertumbuhan.

“Penurunan belanja rumah tangga menunjukkan lemahnya daya beli masyarakat dan menjadi alasan tambahan bagi BoJ untuk berhati-hati menaikkan suku bunga,” kata Hiroshi Watanabe.

Dengan latar belakang tersebut, pelaku pasar memperkirakan BoJ akan menunda kenaikan suku bunga hingga ada tanda-tanda yang lebih kuat bahwa inflasi inti benar-benar stabil di atas target 2%.

Stimulus Ekonomi Baru Dorong Kekhawatiran Fiskal

Perdana Menteri Jepang yang baru, Sanae Takaichi, dilaporkan tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai US$65 miliar untuk menghadapi tekanan inflasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Pemerintah berencana menyelesaikan paket ini pada akhir November, bersamaan dengan penyusunan anggaran tambahan (supplementary budget) untuk mendanai program tersebut.

Kabar ini menimbulkan kekhawatiran baru di pasar keuangan terkait beban fiskal Jepang yang terus meningkat, mengingat rasio utang terhadap PDB negara itu sudah menjadi yang tertinggi di dunia maju. Investor melihat rencana stimulus ini sebagai tanda bahwa pemerintah lebih fokus pada dukungan fiskal ketimbang kebijakan moneter ketat, yang pada akhirnya membebani Yen.

Risalah BoJ: Kenaikan Suku Bunga Masih Mungkin, Tapi Hati-Hati

Meskipun begitu, risalah rapat BoJ bulan September yang dirilis pekan ini menunjukkan bahwa sebagian anggota dewan masih mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Para pengambil kebijakan menilai target inflasi 2% telah “lebih atau kurang tercapai”, namun mereka tetap berhati-hati terhadap risiko global dan volatilitas pasar.

“Risalah tersebut memperlihatkan sikap BoJ yang cenderung ‘wait and see’. Mereka tidak menutup kemungkinan kenaikan suku bunga, tetapi juga tidak ingin tergesa-gesa,” ungkap Reiko Tanaka.

Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Jepang untuk Urusan Internasional, Atsushi Mimura, menegaskan bahwa pergerakan JPY belakangan ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi sebenarnya. Ia juga mengisyaratkan kemungkinan intervensi pasar valuta asing jika pelemahan Yen berlanjut secara berlebihan.

USD Mendapat Dukungan Ringan di Tengah Ketidakpastian AS

Di sisi lain, Dolar AS terlihat stabil setelah sempat melemah pada sesi sebelumnya. Meskipun investor masih khawatir mengenai potensi penutupan sebagian pemerintah AS yang berkepanjangan, USD mendapat dorongan dari berkurangnya ekspektasi pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Data CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa probabilitas pemotongan suku bunga pada Desember kini turun menjadi sekitar 69%, setelah beberapa pejabat FOMC memberikan pernyataan hawkish dalam pekan ini. Hal tersebut menahan penurunan Dolar lebih lanjut, sekaligus mendukung penguatan USD/JPY.

Selain itu, para pelaku pasar menantikan rilis Indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan, yang diperkirakan dapat memberikan petunjuk tambahan terkait prospek ekonomi AS di tengah ketidakpastian fiskal.

Analisis Teknis: USD/JPY Bertahan, Tapi Kenaikan Terbatas

Secara teknikal, pasangan USD/JPY masih menunjukkan bias bullish moderat. Namun, penguatan tampak mulai terbatas setelah beberapa kali gagal menembus area 154,45, yang kini menjadi zona resistensi kuat.

Harga saat ini berada di sekitar 153,25–153,30, dan jika mampu menembus di atas area ini, maka peluang menuju 154,00 hingga 154,45 akan terbuka kembali. Di atas level tersebut, potensi kenaikan lanjutan bisa mengarah ke 155,00 hingga 156,00.

Sebaliknya, jika tekanan jual meningkat, support terdekat terlihat di sekitar 152,15–152,10, diikuti oleh area 152,00. Penembusan di bawah level tersebut dapat mempercepat koreksi teknikal ke zona 151,50–151,20.

“USD/JPY berisiko menghadapi koreksi jangka pendek, terutama jika data ekonomi AS melemah atau muncul sinyal intervensi dari otoritas Jepang,” tulisnya.

Prospek ke Depan: Pasar Tunggu Keputusan BoJ Selanjutnya

Dalam jangka pendek, perhatian pasar akan tertuju pada komentar pejabat BoJ serta perkembangan stimulus fiskal Jepang. Jika BoJ tetap mempertahankan kebijakan ultra-longgar dan pemerintah melanjutkan pengeluaran besar, tekanan terhadap Yen kemungkinan masih berlanjut.

Namun, potensi intervensi mata uang oleh Kementerian Keuangan Jepang bisa menjadi faktor pembalik sentimen (sentiment trigger), terutama jika USD/JPY menembus level psikologis 155,00.

Dengan kondisi fundamental yang bertolak belakang — kebijakan dovish BoJ versus sikap hawkish The Fed — pasangan USD/JPY kemungkinan akan tetap volatile namun cenderung bullish dalam jangka menengah.

Pelemahan Yen Jepang kali ini mencerminkan kompleksitas kebijakan ekonomi Jepang di bawah pemerintahan baru: antara kebutuhan menjaga stabilitas harga, mempertahankan pertumbuhan, dan mengelola risiko fiskal.

Selama Bank of Japan tetap berhati-hati terhadap pengetatan, dan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, maka Dolar AS cenderung tetap dominan terhadap Yen. Meski demikian, potensi intervensi pemerintah Jepang dan data ekonomi global akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah pergerakan USD/JPY menjelang akhir tahun 2025.

Team

One thought on “Yen Jepang Melemah di Tengah Ketidakpastian Kenaikan Suku Bunga BoJ, USD/JPY Bertahan Dekat 153,00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *