Pound Sterling Terus Melemah terhadap Dolar AS

Pound Sterling melanjutkan pelemahan terhadap Dolar AS seiring penguatan USD dan fokus pasar tertuju pada rilis data Nonfarm Payrolls AS…
1 Min Read 1 11

Pound Sterling melanjutkan pelemahan terhadap Dolar AS seiring penguatan USD dan fokus pasar tertuju pada rilis data Nonfarm Payrolls AS serta ketenagakerjaan Inggris.

PMI Jasa AS yang Kuat Perkuat Dolar AS

Pound Sterling (GBP) kembali berada di bawah tekanan dan melanjutkan tren penurunannya terhadap Dolar AS (USD) untuk hari ketiga berturut-turut pada perdagangan Kamis. Pasangan GBP/USD diperdagangkan di kisaran 1,3450 selama sesi Eropa, mencerminkan dominasi dolar AS yang kembali menguat di tengah rilis data ekonomi Amerika Serikat yang solid serta sikap pasar yang semakin berhati-hati menjelang laporan ketenagakerjaan penting.

Pelemahan Pound terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap dolar AS, yang didorong oleh data Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa ISM AS bulan Desember yang jauh lebih kuat dari perkiraan. Data tersebut memperkuat persepsi bahwa ekonomi AS masih cukup tangguh, sehingga mengurangi urgensi bagi Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga secara agresif dalam waktu dekat.

Pada saat yang sama, Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, bertahan di dekat level tertinggi empat minggu di sekitar 98,86. Posisi ini menegaskan bahwa dolar AS masih menjadi pilihan utama investor di tengah ketidakpastian global.

Data PMI Jasa ISM menunjukkan bahwa aktivitas sektor jasa AS meningkat signifikan pada Desember. Indeks utama naik ke level 54,4 dari 52,6 pada November, sekaligus menjadi level tertinggi sejak Oktober 2024. Angka ini jauh melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan PMI berada di sekitar 52,3.

Lebih jauh, subindeks penting seperti Indeks Ketenagakerjaan dan Indeks Pesanan Baru juga mencatatkan peningkatan, menandakan bahwa permintaan domestik dan aktivitas bisnis di sektor jasa masih solid. Kondisi ini memperkuat keyakinan bahwa ekonomi AS belum menunjukkan tanda perlambatan tajam.

Sejumlah analis menilai bahwa data PMI Jasa yang kuat berpotensi menghambat ekspektasi kebijakan moneter dovish The Fed. Analis ING bahkan menyebut bahwa lonjakan sektor jasa AS “mengaburkan narasi pemangkasan suku bunga The Fed,” karena data tersebut tidak sejalan dengan gambaran ekonomi yang membutuhkan stimulus agresif.

Pound Sterling Tertekan oleh Sentimen Pasar dan Minimnya Data Domestik

Di sisi lain, pergerakan Pound Sterling pada Kamis lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen pasar global ketimbang faktor domestik. Dengan kalender ekonomi Inggris yang relatif sepi, mata uang Inggris cenderung bergerak mengikuti arus risk sentiment global.

Pound tercatat melemah terhadap mata uang safe haven seperti dolar AS, namun masih relatif lebih kuat dibandingkan beberapa mata uang berisiko lainnya. Hal ini mencerminkan sikap pasar yang cenderung selektif, di mana investor lebih memilih aset yang dianggap aman menjelang rilis data ekonomi penting.

Data Ketenagakerjaan Inggris Jadi Fokus Berikutnya

Ke depan, katalis utama bagi pergerakan Pound Sterling adalah rilis data ketenagakerjaan Inggris untuk periode tiga bulan yang berakhir pada November, yang dijadwalkan rilis awal pekan depan. Data ini akan menjadi indikator penting bagi Bank of England (BoE) dalam menentukan arah kebijakan moneternya.

Dalam pertemuan kebijakan bulan Desember, BoE menegaskan bahwa kebijakan moneter masih berada pada “jalur penurunan bertahap.” Pernyataan ini membuka ruang bagi penurunan suku bunga secara perlahan, tergantung pada perkembangan inflasi dan pasar tenaga kerja.

Jika data ketenagakerjaan Inggris menunjukkan pelemahan lebih lanjut, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga BoE dapat meningkat, yang berpotensi menekan Pound Sterling lebih dalam.

Pasar Menanti Nonfarm Payrolls AS

Namun dalam jangka pendek, perhatian pasar sepenuhnya tertuju pada laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS untuk bulan Desember yang akan dirilis pada Jumat. Data ini dipandang sebagai penentu utama arah kebijakan The Fed dan pergerakan dolar AS.

Pada tahun 2025, The Fed telah melakukan tiga kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin untuk menopang pasar tenaga kerja yang mulai melunak. Oleh karena itu, data NFP terbaru akan menjadi kunci untuk menilai apakah tren pelemahan tenaga kerja AS berlanjut atau justru menunjukkan ketahanan.

Menjelang rilis NFP, data pendahulu memberikan gambaran yang beragam. Laporan ADP menunjukkan bahwa ketenagakerjaan sektor swasta AS kembali bertambah 41 ribu pada Desember, setelah sebelumnya mengalami penurunan 29 ribu pada November. Sementara itu, data JOLTS mengungkapkan bahwa jumlah lowongan pekerjaan turun menjadi 7,146 juta, lebih rendah dari ekspektasi pasar.

Kombinasi data ini membuat pelaku pasar bersikap wait and see, menunggu konfirmasi dari laporan ketenagakerjaan resmi AS.

Analisis Teknikal: GBP/USD Mendekati Area Kunci

Secara teknikal, pasangan GBP/USD diperdagangkan di sekitar 1,3455 dan masih bertahan sedikit di atas Exponential Moving Average (EMA) 20-hari yang berada di kisaran 1,3443. Posisi ini menunjukkan bahwa bias jangka pendek masih relatif konstruktif, meskipun tekanan jual mulai meningkat.

EMA 20-hari yang masih menanjak mengindikasikan bahwa tren jangka pendek belum sepenuhnya berbalik bearish. Namun, momentum bullish tampak mulai melemah. Relative Strength Index (RSI) 14-hari berada di level 54,5, turun dari area 60-an, mencerminkan pendinginan momentum beli.

Dari sisi resistance, level Fibonacci retracement 61,8% di sekitar 1,3491—diukur dari puncak 1,3791 ke dasar 1,3008—menjadi penghalang utama kenaikan jangka pendek. Penembusan bersih di atas level ini berpotensi membuka jalan menuju area 1,3623.

Sebaliknya, jika harga menembus dan menutup di bawah EMA 20-hari, tekanan koreksi dapat meningkat dan menyeret GBP/USD menuju area support di sekitar 1,3310.

Secara keseluruhan, Pound Sterling masih berada dalam tekanan terhadap Dolar AS, dipengaruhi oleh penguatan greenback, data ekonomi AS yang solid, serta sikap pasar yang berhati-hati menjelang rilis data ketenagakerjaan penting. Dengan fokus utama pada laporan NFP AS dan data tenaga kerja Inggris, volatilitas pada pasangan GBP/USD diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa hari ke depan, sementara arah pergerakan selanjutnya sangat bergantung pada hasil data tersebut.

Team

One thought on “Pound Sterling Terus Melemah terhadap Dolar AS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *