Federal Reserve diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan awal 2026, dengan perhatian pasar tertuju pada pernyataan Jerome Powell di tengah meredanya kekhawatiran pasar tenaga kerja AS.
Pasar Hampir Pasti Memperkirakan Suku Bunga Ditahan
Federal Reserve Amerika Serikat diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada akhir pertemuan kebijakan moneter pertama di tahun 2026, seiring meredanya kekhawatiran terhadap kondisi pasar tenaga kerja AS. Meski keputusan suku bunga hampir sepenuhnya telah diperhitungkan oleh pasar, komentar Ketua The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers pasca-rapat diyakini akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah pasar keuangan, khususnya pergerakan Dolar AS (USD).
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dijadwalkan mengumumkan hasil rapat kebijakan pada hari Rabu. Konsensus pasar menunjukkan bahwa suku bunga dana federal akan tetap berada di kisaran 3,50%–3,75%. Dengan tingkat kepastian yang tinggi terhadap keputusan ini, fokus investor kini beralih pada panduan kebijakan ke depan (forward guidance) dan penilaian The Fed terhadap kondisi ekonomi AS.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, investor memperkirakan sekitar 98% kemungkinan The Fed akan menahan suku bunga pada Januari. Sementara itu, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Maret hanya diperkirakan sekitar 15%, mencerminkan ekspektasi pasar yang semakin berhati-hati terhadap pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Angka ini menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan dengan akhir tahun lalu, ketika pasar masih cukup optimistis bahwa pemangkasan suku bunga dapat dimulai lebih awal. Seiring masuknya data ekonomi terbaru, ekspektasi tersebut mulai bergeser, memperkuat pandangan bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan ketatnya lebih lama.
Pandangan Ekonom Sejalan dengan Ekspektasi Pasar
Hasil survei terbaru Reuters memperkuat konsensus tersebut. Seluruh 100 ekonom yang disurvei memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada Januari. Lebih lanjut, 58% responden memperkirakan tidak akan ada perubahan suku bunga sepanjang kuartal pertama 2026.
Ini merupakan perubahan sikap dibandingkan survei Desember lalu, ketika sebagian besar ekonom masih memperkirakan setidaknya satu pemangkasan suku bunga pada Maret. Pergeseran pandangan ini mencerminkan meningkatnya keyakinan bahwa ekonomi AS masih cukup solid untuk menahan kebijakan moneter ketat, meskipun laju pertumbuhan mulai melambat.
Pasar Tenaga Kerja yang Lebih Stabil Kurangi Tekanan
Salah satu faktor utama yang memungkinkan The Fed bersikap lebih sabar adalah stabilitas pasar tenaga kerja AS. Meskipun pertumbuhan lapangan kerja tidak sekuat periode pasca-pandemi, data terbaru menunjukkan bahwa perlambatan terjadi secara bertahap dan terkendali, bukan penurunan tajam yang mengkhawatirkan.
Pertumbuhan upah mulai melambat, tingkat pemutusan hubungan kerja relatif rendah, dan permintaan tenaga kerja masih bertahan di banyak sektor. Kondisi ini membantu meredakan kekhawatiran akan potensi resesi yang dipicu oleh melemahnya pasar tenaga kerja, sekaligus memberi ruang bagi The Fed untuk tetap fokus memastikan inflasi benar-benar terkendali secara berkelanjutan.
Pernyataan Powell Jadi Penentu Arah Dolar AS
Dengan keputusan suku bunga yang nyaris pasti, nada pernyataan Jerome Powell diperkirakan menjadi pendorong utama pergerakan pasar. Investor akan mencermati setiap kalimat yang disampaikan Powell untuk mencari petunjuk mengenai kapan dan dalam kondisi apa The Fed akan mulai memangkas suku bunga.
Nada yang cenderung hawkish, menekankan kehati-hatian, ketergantungan pada data, serta komitmen menjaga stabilitas harga, berpotensi menopang penguatan Dolar AS. Sebaliknya, sinyal bahwa pemangkasan suku bunga mulai dipertimbangkan dalam waktu dekat dapat memicu tekanan jual pada Greenback.
Sejauh ini, Dolar AS menunjukkan ketahanan terhadap mata uang utama lainnya, melanjutkan momentum positif sejak akhir 2025. Kekuatan ini didukung oleh imbal hasil obligasi AS yang relatif tinggi serta persepsi bahwa The Fed akan lebih lambat memangkas suku bunga dibandingkan bank sentral utama lainnya seperti ECB atau Bank of England.
Menjaga Keseimbangan antara Inflasi dan Pertumbuhan
Meski kekhawatiran pasar tenaga kerja mereda, tantangan The Fed belum sepenuhnya berakhir. Inflasi memang telah turun dari level puncaknya, namun para pembuat kebijakan tetap menekankan pentingnya kemajuan yang konsisten dan berkelanjutan sebelum melonggarkan kebijakan moneter.
Jika Powell menegaskan bahwa risiko inflasi masih condong ke atas, ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama akan semakin menguat. Namun, jika fokus beralih pada risiko perlambatan ekonomi yang lebih dalam, spekulasi mengenai pemangkasan suku bunga lebih awal dapat kembali mencuat.
Arah Kebijakan Selanjutnya Bersifat Data-Dependent
Setelah Januari, arah kebijakan moneter The Fed akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi berikutnya, termasuk inflasi, ketenagakerjaan, dan belanja konsumen. Untuk saat ini, baik pasar maupun ekonom tampak sepakat bahwa stabilitas kebijakan akan menjadi tema utama pada awal 2026.
Dalam konteks ini, komunikasi The Fed menjadi sama pentingnya dengan kebijakan itu sendiri. Kemampuan Powell menjaga keseimbangan antara kehati-hatian dan fleksibilitas akan krusial untuk mengelola ekspektasi pasar dan menjaga kredibilitas bank sentral.
Keputusan The Fed pada Januari kemungkinan besar tidak akan mengejutkan pasar. Namun, pesan yang disampaikan dapat menentukan arah pasar global dalam beberapa bulan ke depan. Dengan kekhawatiran pasar tenaga kerja yang mereda dan inflasi masih menjadi perhatian utama, The Fed tampaknya nyaman untuk menahan suku bunga lebih lama.
Bagi investor, pesan utamanya jelas: stabilitas suku bunga bukan berarti kepastian arah kebijakan jangka panjang. Selama The Fed tetap bergantung pada data, setiap rilis ekonomi dan setiap pernyataan Jerome Powell akan terus menjadi katalis penting bagi pergerakan Dolar AS dan pasar keuangan global.
One thought on “Federal Reserve Bersiap Menahan Suku Bunga saat Kekhawatiran Pasar Tenaga Kerja Mereda”