USD/INR menyentuh rekor baru mendekati 90,70 akibat arus keluar dana asing yang terus berlanjut dan ekspektasi pemangkasan suku bunga RBI. Sentimen global dan sinyal dovish The Fed memperkuat tekanan pada Rupee. Simak analisis lengkapnya.
FII Terus Cabut Dana, RBI dan The Fed Jadi Penentu Tren Berikutnya
Rupee India kembali melanjutkan pelemahan tajam terhadap Dolar AS, dengan pasangan USD/INR mencetak rekor baru mendekati 90,70 pada awal perdagangan Kamis. Pelemahan ini menandai tujuh hari berturut-turut INR berada di bawah tekanan berat, terutama dipicu oleh derasnya arus keluar dana asing dari pasar ekuitas India serta meningkatnya spekulasi terkait kebijakan moneter domestik dan global.
Arus keluar modal asing oleh Investor Institusional Asing (FII) menjadi faktor sentral yang mendorong USD/INR terus mendaki. Para investor global tampaknya masih berhati-hati terhadap eksposur mereka di pasar India, bahkan setelah menjadi penjual bersih selama periode Juli hingga November. Hanya dalam beberapa hari pertama bulan Desember, FII telah menjual saham senilai Rs. 8.020,53 crore, memperkuat tekanan jual di pasar saham India dan memperburuk sentimen terhadap Rupee.
FII Terus Kabur di Tengah Minimnya Kepastian Perdagangan India–AS
Salah satu penyebab utama di balik aksi jual FII adalah stagnasi negosiasi perdagangan antara India dan Amerika Serikat. Beberapa bulan lalu, Gedung Putih sempat menyatakan bahwa India bisa menjadi negara pertama yang menandatangani perjanjian perdagangan bilateral dengan AS. Namun, proses ini tertunda akibat ketegangan politik antara India dan Pakistan.
Kini, India justru menjadi salah satu dari sedikit negara yang belum memiliki perjanjian perdagangan resmi dengan AS. Kondisi ini diperburuk dengan tarif impor AS terhadap produk India yang mencapai sekitar 50%, salah satu yang tertinggi di antara mitra dagang utama Washington. Tarif tinggi tersebut mengurangi daya saing produk India di pasar global, sekaligus menurunkan minat investor untuk menambah posisi di pasar domestik.
Karena alasan tersebut, pasar memandang tidak adanya kemajuan dalam hubungan perdagangan India–AS sebagai hambatan yang memperlemah Rupee.
Survei: Rupee Bisa Menguat Jika Kesepakatan Perdagangan Tercapai
Meski tekanan jangka pendek masih kuat, survei Reuters menunjukkan pandangan yang lebih optimistis dalam jangka menengah. Para ahli strategi valas memperkirakan bahwa Rupee dapat menguat terhadap USD dalam tiga bulan ke depan apabila India dan AS mencapai terobosan dalam negosiasi dagang.
Dalam horizon 12 bulan, pasangan USD/INR diperkirakan dapat turun sekitar 0,3% menuju 89,65, apabila faktor eksternal seperti pemulihan sentimen risiko global dan kebijakan moneter tetap kondusif.
Namun, hingga ada perkembangan konkret, investor cenderung mempertahankan pendekatan defensif terhadap Rupee, dengan USD/INR tetap bergerak di sekitar level tertinggi yang pernah tercapai.
RBI Diprediksi Pangkas Suku Bunga Repo
Di dalam negeri, perhatian investor kini beralih kepada keputusan kebijakan moneter Reserve Bank of India (RBI) yang akan diumumkan pada hari Jumat. Ekspektasi pasar mengarah pada pemangkasan suku bunga Repo sebesar 25 basis poin menjadi 5,25%.
Selama tahun ini, RBI telah memangkas suku bunga sebesar 100 basis poin seiring inflasi yang tetap terkendali. Pemotongan lebih lanjut dapat mendukung aktivitas ekonomi, tetapi di sisi lain bisa menambah tekanan terhadap Rupee, terutama jika perbedaan suku bunga terhadap AS semakin menyempit.
The Fed Dovish: Sentimen Global Kian Menekan Rupee
Di tingkat global, Dolar AS tetap kuat terhadap Rupee tetapi menunjukkan kinerja yang lebih lemah dibandingkan mata uang utama lainnya. Pasar kini sangat yakin bahwa Federal Reserve akan memotong suku bunga sebesar 25 basis poin minggu depan, dengan probabilitas mencapai 89%, menurut CME FedWatch Tool.
Indeks Dolar AS (DXY) berada di sekitar 99,00, meskipun baru mencatat level terendah bulanan di 98,80. Tekanan terhadap USD datang dari melambatnya pasar tenaga kerja AS, terlihat dari data ADP yang menunjukkan bahwa sektor swasta mem-PHK 32.000 pekerjaan di November, jauh dari ekspektasi penambahan 5.000 pekerjaan.
Pelemahan pasar kerja seperti ini biasanya membuka jalan bagi pelonggaran kebijakan moneter, dan beberapa anggota FOMC telah menyampaikan dukungan terhadap pemangkasan lanjutan. Presiden The Fed New York, John Williams, menyatakan bahwa kebijakan saat ini masih “sedikit restriktif” dan masih ada ruang untuk pelonggaran lebih lanjut.
Investor global kini menunggu data Indeks Harga PCE — indikator inflasi favorit The Fed — meski data yang sudah cukup lama diperkirakan tidak banyak mengubah ekspektasi pasar.
Analisis Teknis: USD/INR Tetap Bullish di Atas EMA 20 Hari
Secara teknikal, USD/INR mempertahankan tren bullish jangka pendek. Pair ini diperdagangkan di sekitar 90,70 pada sesi sore India dan tetap di atas Exponential Moving Average (EMA) 20 hari di 89,40. EMA yang terus menanjak menunjukkan bahwa momentum bullish masih kuat.
Indikator RSI di 76,14 menandakan kondisi jenuh beli, yang dapat membuka peluang konsolidasi jangka pendek. Namun selama harga bertahan di atas EMA 20 hari, struktur bullish tetap terjaga.
Jika tekanan beli berlanjut, target berikutnya berada di 91,00, sedangkan penurunan di bawah 89,40 dapat menjadi tanda melemahnya momentum naik.
One thought on “USD/INR Melesat ke Rekor Baru”